Motivasi saya untuk menjadi seorang engineer:
“Sejak kecil, saya selalu terpaku pada bagaimana segala sesuatu bekerja. Dan saya tertarik dengan mobil-mobilan/kendaraan yang bermesin(terutama LEGO), saya lebih sering membongkarnya untuk memahami komponen di dalamnya. Rasa ingin tahu tersebut tumbuh menjadi ketertarikan mendalam pada bidang sains dan matematika—dua pilar utama yang mendasari ilmu rekayasa. Bagi saya, engineering bukan hanya tentang merancang mesin atau membangun struktur beton, melainkan sebuah seni memecahkan masalah kompleks untuk meningkatkan kualitas hidup manusia.
Di bangku sekolah ini, saya menyadari bahwa menjadi seorang insinyur menuntut dedikasi tinggi, berpikir kritis, dan kerja tim. Visi saya jelas: saya ingin menjadi mechanical engineer yang mampu menciptakan sistem transportasi yang efisien dan ramah lingkungan, guna mengatasi tantangan energi masa depan. Orientasi saya saat ini adalah memperkuat fondasi akademik dan soft skill agar kelak dapat berkontribusi dalam membangun infrastruktur krusial bagi masyarakat dan saya berkeinginan untuk berkuliah di salah satu campus besar di indonesia yaitu ITB(institut teknologi bandung).”

Engineer:
engineering adalah suatu kombinasi antara keahlian teknis (hard skill), kemampuan manajemen (soft skill), dan adopsi teknologi baru

membangun fondasi hardskill (teknis) melalui kursus online atau proyek mandiri, mengasah kemampuan problem-solving, membuat portofolio (coding, desain, atau purwarupa), serta mengikuti magang atau kompetisi.
Hal yang akan saya lakuakan untuk beberapa tahun kedepan (2-3)untuk mencapai/mendapatkan kesuksesan di masa mendatang.
1. Membangun Portofolio Melalui Proyek Pribadi (Personal Projects)
Proyek nyata menunjukkan kemampuan teknis lebih baik daripada nilai akademis.
- Teknik Mesin/Sipil: Desain komponen 3D menggunakan software CAD (SolidWorks/AutoCAD), cetak 3D, atau rakit mekanik sederhana.
- Teknik Elektro/Robotika: Buat robot line follower sederhana, sistem smart home berbasis Arduino/ESP32, atau kendali kendali jarak jauh.
- Teknik Komputer/Informatika: Buat aplikasi web sederhana, backend API, atau proyek data science menggunakan Python.
- Proyek Berbasis “Fix-it”: Perbaiki mesin, alat elektronik, atau kendaraan yang rusak. Ini melatih logika perbaikan (troubleshooting).
2. Magang dan Pengalaman Lapangan
- Cari Magang Kecil/Startup: Jangan menunggu tahun akhir. Startup seringkali bersedia mempekerjakan pemula dan memberi tanggung jawab lebih besar.
- Ikuti Kompetisi Teknik: Ikuti lomba karya tulis ilmiah, robotika, atau jembatan. Ini memberikan pengalaman kerja tim dan tekanan deadline.
- Bergabung dengan Tim Design/Formula: Ikuti komunitas seperti tim robotika, mobil hemat energi, atau tim Formula Student di kampus.
3. Peningkatan Keterampilan Teknis (Hard Skills)
- Kuasai Satu Software Spesifik: Pelajari satu alat standar industri secara mendalam (misal: MATLAB untuk teknik, AutoCAD/Revit untuk sipil, SQL/Docker untuk IT).
- Pemrograman Dasar: Apapun jurusannya, kemampuan bahasa pemrograman seperti Python, C++, atau MATLAB sangat berguna.
- Pelajari Analisis Data: Belajar teknik dasar dalam mengambil data, memodelkan, dan menganalisisnya.
4. Pengembangan Soft Skills
- Latihan Komunikasi Teknis: Latih kemampuan menjelaskan proyek teknik yang rumit menjadi presentasi sederhana. Ini krusial saat wawancara kerja.
- Problem Solving: Berlatih memecahkan studi kasus atau masalah riil (misalnya efisiensi energi di rumah) menggunakan pendekatan design thinking.
- Manajemen Proyek: Pelajari cara mengelola waktu dan sumber daya dalam proyek pribadi atau tim.
5. Membangun Profil Profesional
- Buat Resume yang Menonjolkan Proyek: Tulis proyek-proyek yang dikerjakan di atas di dalam CV, bukan hanya daftar mata kuliah.
- Optimalkan LinkedIn: Hubungkan diri dengan profesional di industri, ikuti perkembangan teknologi, dan update portofolio proyek secara berkala.